7926 24623 34874267924
Sebegitu besarnya obsesiku padanya dulu. Sampai urutan angka-angka itu selalu merekat di kepala, begitu mudah mengalir tanpa ragu. Dimulai dari sebuah persahabatan yang lugu, beranjak ke gejolak dalam perut ketika dia melewati lapangan basket sekolah dan tersenyum samar sambil melambaikan tangan ke jendela kelasku.
Bagiku, dia mempesona. Lengkap dengan semua keunikannya, lengkap dengan semua gesture-gesture kecil yang sampai hari ini masih melekat di hati. Terbayang lagi kini, pertama kalinya ia meraih tanganku – pertama kalinya ia membelai rambutku perlahan – pertama kalinya ia mencium kening, mata, hidung, pipi, telinga, bibir, leher, dada. Turun terus sampai perut dan berhenti di sana. Berhenti di sana.
Tiga tahun berikutnya kami lewati mengenakan putih abu-abu, aku tau dia sadar aku merasakan sesuatu tapi dia yang memilih diam. Berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa. Berpura-pura hati ini ga pernah ngerasain apa-apa. Perih juga hatiku lama-lama dibiarkan tenggelam dalam obsesi. Tiga tahun aku hanya bisa melihatnya berlalu lalang melalui jendela kelasku, lagi-lagi hanya senyum samar yang kutangkap dari semua sikapnya.
Kuputuskan sebuah surat mungkin menjadi jawaban. Jawaban atas pertanyaan besar “Kenapa?” – aku masih ngga pernah ngerti, kenapa persahabatan dan semua perasaan yang ada harus menghilang begitu saja tanpa sepatah katapun penjelasan. Jawabannya sederhana, ia menulis disana. Setidaknya, walau perasaan tetap tak berbalas – sejak hari ia mengembalikan surat itu, kami mulai lagi saling menyapa.
Obsesiku ini tidak wajar. Satu sekolah tau dan tertawa di belakang punggung, membiarkanku berharap sampai merasa lelah sendiri tapi lelah itu tak kunjung tiba. Pun hingga aku sudah melanglang-buana ke negara-negara seberang samudra.
Perasaan itu masih ada. Obsesi.
Tinggi dan bermain musik, aku selalu mencari. Sejak obsesi yang terkoyak aku mencari yang lebih spesifik, tinggi – berkacamata – suka bermain musik dan memegang alat musik bass. Sekarang dia bukan bassist memang, tapi pertama kali perasaan itu ada, dia bukan pula penggebuk drum. Aku menghormati kenangan yang ada, perlahan kucoba menghapus semua pengharapan. Bahkan nama kami tidak jauh berbeda. Takdir yang membawa kami ke garis yang berbeda.
Hampir dua tahun tidak berjumpa. Tak pernah ada kabar berita. Sampai sebuah dering telepon mengejutkan. Itu suaranya. Aku yakin walau tidak ada nomor yang muncul di layar motorollaku. Itu dia. Dia.
Obsesiku masih sama. Pada dasarnya aku percaya ia merasakan hal yang sama dan percaya bahwa dulu mungkin ia yang menghindar tapi sekarang aku yang terbatasi. Ia suka bermain api. Aku suka pria yang bermain dengan api.
Hampir dua tahun tidak berjumpa. Setelah entah berapa pesan singkat dan telepon yang kuterima. Saatnya untuk tatap mata. Aku gugup. Merasa bahwa apapun itu yang dulu menghalangi aku dan dia, sudah hilang. Tapi tetap aku kurang sempurna baginya. Aku kurang.
Pelukan. Itu yang kudapat. Pelukan sehangat pelukan pertama kami. Senyum sehangat senyumnya dulu setelah melayangkan beribu cium.
Lalu api. Itu yang kurasakan. Panas. Dimulailah lagi – ciuman di kening, hidung, mata, pipi, telinga, bibir, leher, dada, turun sampai ke perut. Kali ini tidak berhenti di sana. Tidak berhenti sama sekali.
Tangan terkait tangan, jari mengunci.
Aku menikmati api dari obsesiku selama ini. Tapi tidak lebih. Aku hanya ingin kembali bertemu seseorang yang menungguku di seberang samudera sana.
Ketika deru nafas berhenti, obsesiku hilang begitu saja.
Obsesiku berhenti, ketika aku membalas ciumannya – kening, mata, hidung, pipi, telinga, bibir, leher, dada, perut.. dan berhenti di sana.
Obsesiku berhenti di sana.
Kupu-kupu di perut kembali bergejolak, berterbangan kesana kemari. Perasaan itu muncul lagi, aku tau. Tapi itu bukan perutku. Pun itu bukan perasaanku. Juga bukan obsesiku.
Karena obsesinya dimulai di sana.